Sunday, March 25, 2012

Pendekatan Behaviorisme


Pendekatan behavioral
Seringkali orang mengalami kesulitan karena tingkah lakunya berlebihan atau ia kekurangan tingkah laku yang pantas. Konselor yang mengambil pendekatan behavioral membantu klien untuk belajar cara bertindak yang baru dan pantas, atau membantu mereka untuk memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku yang berlebih. Dengan perkataan lain, membantu klien agar tingkah lakunya menjadi lebih adaptif dan menghilangkan yang maladaptif (Gladding, 2004).
Pendekatan behavioral merupakan pilihan untuk membantu klien yang mempunyai masalah spesifik seperti gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan disfungsi psiko seksual. Juga bermanfaat untuk membantu gangguan yang diasosiasikan dengan anxietas, stres, asertivitas, berfungsi sebagai orang tua dan interaksi sosial (Gladding, 2004).
Menurut Gladding (2004), B.F. (Burrhus Frederick) Skinner adalah orang yang bertanggungjawab untuk mempopulerkan penanganan gangguan secara behavioral.
[1]

Metode behavioral dalam konseling

Modifikasi perilaku (behavior modification) adalah sebuah teknik yang berangkat dari konsepsi Skinnerian bahwa dalam setiap situasi atau dalam merespon setiap stimulus seseorang sudah memiliki perbendaharaan responds yang sesuai dengan stimulus tersebut. Prinsip ini dikenal dengan istilah operant conditioning (pengkondisian operan). Contohnya seperti kawannya bertanyakan sesuatu dan dia akan merespon dengan menjawab, mengacuhkannya, atau lari. Skinner (1953)berpendapat bahwa responds yang akan dikeluarkan adalah yang paling sering dikuatkan di masa lalu.
[2]

Pandangan tentang manusia

Gladding menyatakan ide dalam tingkah laku sebagai suatu kelompok besar:
1) Konsentrasi pada proses-proses tingkah laku, yaitu berbagai proses yang diasosiasikan dengan tingkah laku yang kelihatan
2) Fokus pada tingkah laku yang kini dan sekarang (here and now), dan bukan yang lampau dan sudah lalu
3) Asumsi bahwa semua tingkah laku dipelajari, baik yang adaptif maupun yang maladaptif
4) Suatu kepercayaan bahwa belajar merupakan cara efektif untuk mengubah tingkah laku maladaptif
5) Memfokuskan pada sasaran terapi yang jelas
6) Menolak ide bahwa kepribadian manusia terdiri dari berbagai macam trait.

Corey (2001) mengatakan bahwa terapi behavioral yang modern tidak mempunyai asumsi deterministik tentang manusia yang menganggap manusia hanya sebagai produk dari kondisioning sosio kultural. Individu adalah hasil produksi dan juga yang memproduksi lingkungannya. Corey (2001) melihat Skinner sebagai penganut teori tingkah laku yang radikal dan tidak mengakui kemungkinan diri sebagai penentu dan kebebasan diri. Kecenderungan sekarang adalah untuk mengajarkan pengendalian kepada klien, dengan demikian meningkatkan kebebasan mereka. Modifikasi tingkah laku bertujuan meningkatkan keterampilan individu sehingga mereka mempunyai lebih banyak pilihan dalam memilih suatu tingkah laku.
Bagi para ahli modifikasi tingkah laku, penting guna menemukan bukti empirik dan dukungan ilmiah untuk teknik yang mereka pakai. Beberapa ahli yang menyingkapi pembelajaran sosial-kognitif menekankan bahwa orang memperoleh pengetahuan dan tingkah laku baru dengan cara mengamati orang lain dan berbagai macam kejadian tanpa mereka sendiri harus melakukan tingkah laku tersebut dan tanpa konsekuensi langsung kepada diri mereka (misalnya modeling). Tipe belajar ini tidak memerlukan partisipasi aktif.

Peran konselor

Pada umumnya konselor yang mempunyai orientasi behavioral bersikap aktif dalam sesi konselling. Klien belajar, menghilangkan atau belajar kembali bertingkah laku tertentu. Dalam proses ini, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasehat, pemberi dukungan dan fasilitator. Ia bisa juga memberi instruksi atau mensupervisi orang-orang pendukung yang ada di lingkungan klien yang membantu dalam proses perubahan tersebut. Konselor behavioral yang efektif beroperasi dengan perspektif yang luas dan terlibat dengan klien dalam setiap fase konselling (Gladding, 2004).
[3]

Teknik-teknik konseling

Teknik-teknik tingkah laku umum

a) Skedul penguatan
Bila suatu tingkah laku baru saja dipelajari, maka tingkah laku itu harus diperkuat setiap kali muncul dengan perkataan lain penguatan yang berlangsung terus. Setelah terbentuk, frekuensi penguat dapat dikurangi dengan perkataan lain memakai penguat intermiten, supaya tingkah laku tetap bertahan.
b) Shaping
Tingkah laku yang dipelajari secara bertahap dengan pendekatan suksesif. Untuk mempelajari keterampilan baru, konselor dapat memecah-mecah tingkah laku ke dalam unit-unit, dan mempelajarinya dalam unit-unit kecil.
c) Ekstingsi
Eliminasi dari tingkah laku karena penguat tidak diberikan lagi. Hanya sedikit individu yang mau melakukan sesuatu yang tidak memberi keuntungan.

Teknik-teknik spesifik

a) Desensitisasi sistematik
Rancangan bagi membantu klien mengatasi anxietas dalam situasi-situasi tertentu. Klien diminta supaya mengambarkan situasi yang menimbulkan kecemasan, sampai tidak menimbulkan keprihatinan. Konselor mengajar klien untuk rileks secara fisik dan mental.
b) Pelatihan asertivitas
Klien belajar untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif dan assertif. Tujuannya agar klien belajar bertingkah laku assertif.
c) Time-out
Teknik aversif yang sangat ringan. Klien dipisahkan dari kemungkinan mendapatkan penguat positif. Sangat efektif bila digunakan untuk waktu yang singkat, misalnya 5 menit.
d) Implosion dan flooding
Terapi implosif sebagai suatu teknik yang sudah lanjut (advanced) yang mencakup mendesensitisasi klien dengan cara meminta klien membayangkan suatu situasi penimbul anxietas yang bisa berakibat parah. Klien tidak diajarkan untuk rileks terlebih dahulu. Flooding lebih ringan sifatnya, karena situasi penimbul anxietas yang dibayangkan tidak menimbulkan konsekuensi yang parah.

Ciri-ciri utama aliran behaviorisme

Aliran ini menitikberatkan perhatiannya pada tingkah laku lahiriah, karena hal tersebut dianggap sebagai gambaran tentang perasaan bathin atau jiwa.[4]
Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman-pengalaman bathin dikesampingkan. Dan hanya berubah dan gerak-geri pada badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.
Segala macam perbuatan dikembalikan kepada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran, yang dinamakan refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu kompleks refleks atau suatu mesin reaksi.
Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut behaviorisme pendidikan adalah maha kuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi reflek mengikut hatinya.[5]

Pendapat para pengikut behavior

Pandangan James tentang filsafat dan psikologi adalah:
a) Tiap berpikir mengandung maksud tertentu, yaitu menyempurnakan hidup.
b) Segala kenyataan bersifat pragmatis, yakni mengandung maksud-maksud tertentu, dan kenyataan itu hanya berarti kalau ada faedahnya dari manusia.
c) Nilai pengetahuan manusia harus diuji pada kehidupan yang praktis. Benar tidaknya sesuatu pikiran itu dapat dilihat dari dapat tidaknya pikiran itu dipraktikkan, dan terbukti atau tidaknya maksud yang dikandung di dalamnya.
d) Semboyan kaum Behaviorisme “The truth is in the making”. Benar ialah apa yang dalam praktik ternyata tepat dan menguntungkan. Tidak benar, ialah apa yang dalam praktik tidak memberi hasil.

Nota Bimbingan&Kaunseling




# BAB 1 – PENGENALAN KAUNSELING
Definisi kaunseling.
Satu perbincangan antara kaunselor terlatih dgn individu atau kelompok kecil yg mengalami kekeliruan dan memerlukan bantuan,bersama-sama memikirkan dan meneliti bbrp alternatif utk mengatasi sesuatu kecelaruan dan seterusnya melaksanakan alternatif yg dipilih.”
Perbezaan antara kaunseling dan psikoterapi.
(1)Kaunseling – lebih menumpukan perhatian
kpd membantu individu mengatasi
kebuntuan,kekusutan fikiran utk meneruskan
kehidupan yg lebih tenteram.
(2)Psikoterapi – lebih memberi penekanan
kpd pemulihan ‘penyakit mental’.
Matlamat kaunseling
(1)Mengubah tingkah laku kpd kehidupan
yg lebih produktif/memuaskan.
(2)Memulakan dan meneruskan hubungan
positif.
(3)Mengurus kendiri dgn efaktif apb dlm kesulitan
 (4)Membuat keputusan Rasional.
 (5) Bantu Klien Berkembang secara positif
dan mencapai potensi/minat.
Peranan Kaunselor ( Aspek tempat dan situasi)
(1) Sekolah – membantu pelajar membuat pemilihan kerjaya yg sesuai utk mereka.
(2) Penjara – Membantu pemulihan ahli dan proses mengintegrasikan mrk semula dgn masyarakat.
(3) Hospital – membantu keluarga yg kehilangan ahlinya menghadapi dan menerima kehilangan.
(4) Pejabat Agama Islam – membantu suami isteri yg mengalami masalah r.tangga.
(5) Pejabat Kerajaan – Membantu pekerja yg stress atau menghadapi masalah burn out.
(6) Gereja – membantu mrk yg menghadapi masalah peribadi spt masalah dgn ibu bapa.
Peranan Kaunselor (Aspek Individu)
(1) Kesihatan fizikal – bantu individu jaga
kesihatan.amalkan tabiat yg positif.
mengamalkan gaya hidup yg sihat.
(2) Keperluan sosial – hubungan
keluarga,persekitaran tempat
kerja,persahabatan dan kegiatan lain yg
menghubungkan individu tersebut dgn orang
lain.
(3) Kesihatan mental – kaunselor perlu
rangsang pemikiran klien spy lebih kreatif dlm
menyelesaikan masalah.
(4) Keperluan emosi – tingkatkan
kesejahteraan emosi klien spy ia dpt
menyatakan masalah dan perasaannya
terhadap kehidupannya.
(5) Keperluan kerohanian – perlu krn skrg
manusia bertindak berlandaskan sesuatu
kepercayaan dan ajaran agamanya.
Ciri-ciri Kaunselor.
Percaya Klien unik dan berharga
Percaya Klien boleh berubah
Faham bagmna indiv efektif berfungsi
Ada  pengetahuan untuk membantu
Ada  kesanggupan Melibat diri
Mengenali diri sendiri
Perkhidmatan Bimbingan dan Kaunseling.
(1) Pengajaran dan latihan – menyebarkan maklumat dan melatih kemahiran. Cth ceramah AIDS
(2) Kaunseling – membantu mencapai penyelesaian klien. Cth Pemulihan Dadah
(3) Pengambilan ujian – ujian IQ (kecerdasan),ujian EQ (ujian emosi dan ujian personaliti)
Kaunseling kelompok.
Antara tiga atau lebih individu.Penggunaan interaksi kelompok utk memfasiliti pemahaman kendiri dan memfasiliti perubahan tingkah laku individu.
Jenis-jenis kelompok.
(1) Kelompok Bimbingan.Contoh-contoh
tajuk yg diperbincangkan: masalah social
(bahaya dadah);pengurusan masa.;kemahiran
belajar;pemilihan kerjaya.;persediaan
peperiksaan.



 (2) Kelompok Kaunseling – lima hingga sepuluh orang.Berbincang sesama ahli dgn penyeliaan kaunselor.
(3) Kelompok lain – kelompok terapi,kelompok sensitivity,kelompok – T.
Kelebihan Kaunseling Kelompok.
(1) Sangat praktik- Tugas kaunselor banyak. Jimat masa-Selesaikan masalah yg sama secara kelompok.
(2) Berkaitan dgn jenis masalah yg dihadapi klien- Masalah interpersonal- lebih percaya rakan sebaya.
(3) Klien mempunyai peluang mencuba tingkah laku baru dlm keadaan selamat dgn sokongan ahli-ahli lain.
(4) Klien akan merasa kurang tertekan apb mengetahui org lain juga mempunyai masalah yg sama.
Unsur-unsur terapeutik dlm kaunseling kelompok.
(1) memberi harapan kpd klien. (2) perasaan selamat dan mendapat sokongan. (3) kesatuan antara ahli-ahli. (4)mempelajari sesuatu dari ahli lain.(5) pembelajaran interpersonal (perorangan)
Prinsip Kerahsiaan dlm Kaunseling.
(1) Tanggungjawab kaunselor menjaga kerahsiaan kliennya bkn muktamad.Dlm situasi tertentu boleh dedahkan. (2) Kerahsiaan dipelihara sekiranya tdk menggugat hak individu lain atau org ramai.
(3) Kerahsiaan sesuatu yg tlh diketahui umum - kaunselor tdk terikat dgn kerahsiaan lagi.
Kepentingan Kerahsiaan
(1) Klien rasa selesa dan selamat meluah perasaan
(2) Klien boleh harapkan kaunselor dan menaruh kepercayan
Situasi pengecualian kerahsiaan.
(1) Klien membahayakan diri dan org lain.
(2) Klien sendiri meminta maklumat ttg dirinya didedahkan.
(3)Mahkamah meminta maklumat didedahkan.
(4)Kaunselor mencurigai klien spt ada penderaan berlaku
BAB 2 – PROSES KAUNSELING
Tahap Kaunseling.
(1) Tahap membina hubungan- tahap membina asas yg kukuh utk mewujudkan satu perkongsian bekerjasama.
(1)Mewujudkan suasana yg menggalakkan interaksi.
(2) Menentukan matlamat awal kaunseling.
(3) Menstruktur hubungan.;kefahaman ttg proses kaunseling; penjelasan peranan klien, kaunselor dan matlamat.; Aspek kerahsiaan klien.(4) Membina kepercayaan.
(2) Tahap penerokaan – tahap memahami bgmn klien mempersepsikan masalahnya.                                  
(1) Meneroka Skop masalah.
(2) Analisis aras perkongsian klien.
(3) Analisis Pola sejarah klien- Adakah pernah alami; Adakah resolusi sama.
(4) Mengenalpasti kekuatan dalaman klien
(3) Tahap membuat keputusan – thp
membentuk satu matlamat utk klien.Strategi
dan arah mana nak bawa klien. Persetujuan;
(1) matlamat mesti dipersetujui bersama (2)
setuju dgn pendekatan dan strategi diguna.
(4) Tahap pelaksanaan- thp di mana
kaunselor berusaha menurunkan aras
kerisauan klien, atau menyelesaikan
masalahnya. Faktor yg mempengaruhi
keberkesanan kaunseling: (1) Pengaruh org yg
terdekat cth ; suami (2) Sumber bantuan lain
cth: kebajikan masyarakat 
(3) Penyediaan risalah –Maklumat AIDS
(5) Tahap menamatkan sesi kaunseling- thp
kaunselor membuat rumusan apa yg tlh
berlaku dlm sesi kaunseling dan
kesannya.Tiga perkara yg mesti dicapai:
(1) kemajuan selama menjalankan kaunseling selama ini mesti dirumuskan kpd tiga kesan-kesannya.2) Isu-isu yg mesti diselesaikan pd masa ini hendaklah dikemukakan.
(3) Memikirkan cara-cara mengekalkan pertumbuhan klien setelah ditamatkan kaunseling.



Klien yang enggan bekerjasama.(Dirujuk kpd kaunselor tanpa kerelaan mereka)
(1) Klien yang degil dan tidak komited.
Sebab-sebab klien degil tapi komited dan tidak mahu membuat perubahan ialah kemungkinan klien:
-takut utk mengetahui diri dgn mendalam dan mengetahui kelemahan dan keburukan diri sendiri.
-Takut utk membuat perubahan.Sesuatu yg diketahui adalah selesa dan selamat dr sesuatu yg -tdk diketahui yg mungkin akan menggugat rasa selamat.
-Takut atau tidak tahu bgmn hendak meluahkan perasaan.
-Tdk memahami proses kaunseling dan tidak tahu apa yg akan berlaku kalau melaluinya.
(2) Klien yg degil tapi komited.
-datang dgn sukarela.
-Sanggup membina hubungan dgn kaunselornya.
-Melibatkan secara aktif dlm proses kaunseling.
-Tetapi tdkmahu mengubah perasaannya,pemikirannya dan kelakuannya yg bermasalah.
Menghadapi klien yg degil.
(1)Elak reaksi negetif.- elak perbuatan yg blh timbulkan kemarahan klien (2)Terima klien.- hormati (3) Sikap tdk putus asa- bersabar (4) Fahami punca kedegilan. (5) Atasi kedegilan dgn positif – beri jalan yg membina/menolong
Mencari maklumat tentang klien.
(1) Mengenali klien sendiri sblm menjadi klien.
(2) Mendapat maklumat dr org terdekat dan yg mengenali klien.
(3) Menyelidik latar belakang klien dgn borang-borang.
(4) Membuat pemerhatian sendiri ke atas klien.
(5)Membuat pemerhatian ke atas apa yg diceritakan dan pergerakan badan klien
Bab 3- Kemahiran Berkomunikasi
Mempelajari kemahiran kaunseling.
(1) kaunselor baca buku-buku.(2)Mendengar
kuliah.(3)Menghadiri seminar-seminar.
(4)Berbincang dgn kaunselor atau org lain yg
berminat.(5)Melihat demontrasi bagaimana
pendekatan-pendekatan kaunseling digunakan.
(6) Melakonkan gerak geri kaunselor yg dilihat atau dirakam.
Persediaan awal Kaunselor
(1) memastikan persekitaran perjumpaan;
(selesa dan selamat./perbualan tidak boleh
didengari oleh orang lain./Tidak ada gangguan
manusia atau benda./Memberi ketenangan.)
(2) pengambilan klien. (mengetahui latar belakang klien./ Membuat kaji selidik untuk mengetahui klien.)
Temu bual Kaunseling Pertama. (Ada FASA)
(1) Fasa memulakan sesi.( berbual ringan utk
bbrp minit sehingga klien rasa selesa.-
Menetapkan dgn persetujuan klien brp lama sesi
itu - Memastikan klien tahu dia boleh meluahkan
masalahnya dgn selamat.)
(2) Fasa menstruktur sesi.( peranan masing2.-
matlamat kaunseling.- Kerahsiaan antara
kaunselor dan klien.)
(3) Fasa menerangkan matlamat sesi.
(4) Fasa menamatkan sesi. (dgn membuat
keputusan utk meneruskan proses kaunseling atau
tdk.Jika ya,adakah utk merujuk klien ke agensi lain
atau tdk.Jika tdk,mengatur temujanji utk sesi
seterusnya).
(5) Fasa membuat rujukan.
Jenis-jenis tingkah laku bukan lisan.
(1) Anggota badan Cth: mata yang selalu pandang ke bawah mungkin menunjukkan klien tidak mempunyai keyakinan diri yang tinggi.
(2) Nada suara Cth: suara yang tinggi dalam percakapan mungkin menunjukkan klien sedang mengalami tekanan seperti marah atau kerisauan yang amat sangat.
(3) Persekitaran Cth: kedudukan klien yang jauh dari kaunselor dan mengundur apabila kaunselor mendekatinya mungkin menunjukkan klien masih belum bersedia untuk menaruh harapan atau kepercayaan kepada kaunselor.






Tingkah laku bukan lisan seorang kaunselor dan ertinya:
(1) Tumpuan mata.- Tumpuan mata yg
bersahaja akan memberi erti yg kaunselor
memang ambil berat apa yg hendak
diperkatakan klien.
(2) Postur terbuka. - Kaunselor x blh duduk
dgn tgn. atau kaki bersilang yg memberi erti
dia tdk bersedia mendgr klien.Postur terbuka
akan meyakinkan klien yg kaunselor sdg
menumpu perhatian.
(3) Menghadap klien.- Kaunselor perlu hadap
klien tanpa sebarang sekatan objek.Ini akan
memberi erti yg kaunselor melibatkan diri dlm
perbincgn antara mereka.
(4) Condong ke hadapan. - Menunjukkan
minat kaunselor kpd apa yg hendak dibincang
oleh klien.
(5) Dlm keadaan rilek. - Raut wajah kaunselor
mesti dlm keadaan tenang dan selesa.Nada
suara sederhana.Suara lembut.Keadaan
tenang kaunselor akan meyakinkan klien dan
ia akan merasa selesa.
Kemahiran Komunikasi
(1) Soalan terbuka.- Kaunselor perlu tahu bila
serta byk mana hendak guna soalan terbuka.
Jika digunakan pd masa yg sesuai akan
menggalakkan klien bercerita.Terlalu byk
soalan terbuka akan membosankan klien.
(2) Senyap.- Kaunselor perlu senyap spy klien
dpt merefleksi ceritanya atau menggalakkan
klien berckp.Terlalu lama senyap buat klien
rasa tk selesa dn kaunselor tk tumpu
perhatian.
(3) Mendengar. - Kaunselor perlu dgr dgn teliti
apa yg dikatakan klien utk beri respon.Dia
perlu ‘mendengar’ disebalik apa yg
diperkatakan juga utk mengetahui maksud
sebenar apa yg diperkatakan klien.
(4) Penyataan semula.- Kaunselor
menyatakan semula dgn perkataan sendiri
kenyataan klien utk memastikan persepsinya
adalah betul.
(5) Merefleksi perasaan. - Penekanan kpd
perasaan yg dialami oleh klien akan
menunjukkan yg kaunselor menerima dan
memahami apa yg klien rasa.
(6) Meringkaskan isu. - Ringkaskan semua
isu yg penting dan masalah yg boleh
merangkumi bbrp sesi.
(7) Meringkaskan perasaan. - Ringkaskan
perasaan klien mengenai isu-isu pening dan
masalah yg dihadapi dpt membantu kaunselor
menunjukkan pemahaman kaunselor dan
membolehkan kaunselor memberi respon yg
betul secara empatik.
Bab 4: Kemahiran Peranan
Peranan Penumpuan : Beri sepenuh perhatian pd klien dan tunjuk pemahaman tanpa prasangka dari segi suara, fizikal, mental dan perasaan.
Jenis-Jenis Respon Penumpuan
(1) Respon mudah; galak klien teruskan cerita spt ya, mm, oo atau anguk2 kepala.
(2) Refleksi kandungan dan perasaan ; memahami perasaan dari cerita klien spt sedih, marah, suka.
(3) Penekanan; merangsang klien jelaskan fakta penting dalam cerita spt, minta klien ulang yg disebut.
(4) Parafrasa; menunjukkan kaunselor faham masalah klien spt sebut semula ayat klien dgn perkataan sendiri.
Aras respon penumpuan
(1) Peranan tidak berkesan ; tunjuk sikap kurang minat, acuh tak acuh.
(2) Peranan sederhana ; beri perhatian pd sebahagian cerita klien.
(3) Peranan yg baik ; tunjuk minat pd cerita klien dan ceritakan semula dengan ayat sendiri.
(4) Peranan berkesan ; tunjuk minat yang tinggi cerita klien, terjemah cerita dengan betul dan beri respon.
Peranan Penjelasan: permintaan kaunselor kpd klien  menjelaskan suatu fakta yg tidak difahami.







Jenis respon penumpuan
(1) Menyemak Persepsi ; semak ketepatan persepsi pada cerita klien spt ‘tadi ada jelaskan bahawa…’
(2) penjelasan alternatif ; kaunselor tak pasti alternatif mana jadi pilihan klien spt ‘ adakah ini yg lebih penting..’
(3) Minta penjelasan lankut ; kaunselor minta klien buat penjelasn spt ‘ cuba jelaskan maksud saudara…’
Aras respon penjelasan
(1) Peranan kurang berkesan;  tidak berminat berminat dan bersifat menghukum spt ‘anda memang bodoh’
(2) Peranan sederhana ; memberi penjelasan sebahagian mesej klien tidak sepenuh hati.
(3) Peranan yg baik ; pamer minat tinggi, fokus cerita klien dari aspek kandungan dan perasaan serta jelaskan kekeliruan.
(4) Peranan paling baik ; memahami dan mjelaskan cerita klien, bantu klien lihat isu dgn jelas, tidak menghukum dan tunjuk minat.
Peranan Menyokong:  percaya bahawa klien
ada potensi untuk menyelesaikan masalah
dan galakkannya untuk mencari alternatif
penyelesaian mengikut tahap2 kaunseling.
Jenis respon sokongan
(1) Menghargai ; rasa hormat tanpa bersyarat, spt ‘anda memang pandai mengatasi masalah ini dgn baik’
(2) Penerimaan ; bantu klien berfikiran positif pd diri, spt ‘ anda memang boleh lakukannya’
(3) Ambil hati ; tunjuk ambil berat dan beri sokongan pd klien, spt ‘teruk sungguh pengalaman anda ya’4) Ketenangan ; bantu atasi ketegangan, kerisauan dan bantu kawal emosi klien spt ‘tarik nafas pjg’.
Aras respon menyokong
(1) Tidak berperanan dgn baik ; tidak beri keyakinan, tidak ikhlas, nada suara hambar.
(2) Peranan sedrhana ; sokongan diberi dgn bersahaja, tidak serius.(3) Peranan Baik; beri respon, sokongan pada situasi yg sesuai dlm proses kaunseling.(4) Peranan paling baik ; nada suara sesuai, pilihan kata2 menyokong, respon sesuai.
Bab 5: Teori Kaunseling Behaviorisme
Fungsi Teori :
(1) Menjelaskan suatu kejadian setelah membuat pemerhatian(2) Menguasai keadaan tertentu (3) Buat ramalan
Kepentingan Teori:
(1) Beri erti , keyakinan dan halatuju kpd kaunselor.(2) Beri fokus kpd kaunselor apa yg hendak dilakukan pd klien(3) Sebagai panduan merancang dan buat persediaan dlm proses kaunseling.
Komponen Teori Kaunseling Behaviorisme
(1) Komponen pertama : dpetik dari pelaziman klasik oleh Ivan Pavlov (2) Komponen kedua ; pelaziman operan oleh BF Skinner (Ganjaran dan dendaan)(3) Komponen ketiga ; terapi tingkah laku kognitif (tingkah laku dan cara berfikir)
Teori Personaliti Behaviorisme: (konsepnya)
(1) Personaliti disebabkan perkembangan TL bukan disebabkan proses mantel.
(2) Personaliti ditentukan oleh persekitaran dan pengalaman
(3) Perbezaan personaliti disebabkan perbezaan pengalaman
(4) Hubungan minda-jasad, jasad roh tiada kesahihan saintifik, hanya boleh diramal.
(5) Personaliti mempunyai batasan genetik yg tidak boleh diubah ttp persekitaran dan rangsangan dalaman mainkan peranan dlm membentuk personaliti.
Teori Personaliti berdasarkan prinsip skinner
(1) Buat ramalan situasi utk kuasai TL individu. (2) Tiada TL bersahaja, semuanya dipengaruhi persekitaran.
(3) Personaliti terbentuk dengan peneguhan (4) TL boleh diubah dgn melemah peneguhan (proses pelupusan)
(5) Personaliti boleh ditiru melalui role play (tiru idola / main peranan)



Strategi membantu Klien
(1) Role Play: Lakonan dengan bimbingan kaunselor Cth: murid malu-kaunselor boleh ajar cara beri pendapat.
Ada hadnya:(a) Bergantung pd kemahiran dan kesungguhan kaunselor.
(b) Kehendak klien sendiri utk mengalami, mendengar, merasakan TL baru.
Faedah:(a) Strategi melatih perlakuan yg sukar dilakukan oleh individu.
(b) Teknik meluaskan kesedaran klien
(c) Melakukan TL yg sukar dengan selamat dan terpimpin.
(2) Latihan Asertif: Teknik meningkatkan keyakinan diri
Kaedah:(a) role play dan lakonan situasi (pasif, agresif, asertif) yg biasa klien buat.
(b) teroka dan takrifkan masalah.
c) role play yg ditetapkan (baru/positif) berulang kali depan kaunselor
(d) laksanakan TL asertif positif berperingkat dalam realiti
(3) Token Ekonomi (hadiah): Beri hadiah material bernilai utk peneguhan TL bersesuaian.
Kaedah:a) Minta bantuan (guru, ibu bapa), jelaskan, buat komitmen matlamat Token Ekonomi.
b) Pilih TL yg mudah diberi peneguhan dari mereka (guru, ibu bapa).
(c) Agihkan Token serta merta, adil dan konsisten.
(d) Token yg diagih masih mempunyai nilai peneguhan.
(e) TL yg diubah adalah juga TL dikehendaki di luar sekolah/rumah.
(4) Pengurusan, Pemantauan, Peneguhan Kendiri: Klien bekerjasama secara aktif dlm proses kaunseling.
Ciri2                (a) Klien berperanan aktif dlm setiap fasa kaunseling.
(b) Klien beri idea ikut arahan kaunselor yg bina langkah tntu utk membantu.
(c) Proses pemikiranklien diberi tumpuan.
(d) Klien dijangka berusaha berubah.
(e) Klien belajar peneguhan kendiri.
(f) Klien dipanggil utk memantau, mencatit, memberi peneguhan kendiri dan buat penjelasan.
(g) Kaunselor berperanan sebagai mentor dan bukan pakar.
Kaedah:(a) Takrifkan masalah & tentukan matlamat (penting, realistik, difahami, blh diukur)
(b) Urus & pantau TL sasaran (rekodkan TL dgn alat yg sesuai; jam, alat perakam, kertas, pen)
(c) Perubahan suasana persekitaran (elak wujud suasana yg x dikehendaki) & ambil langkah sesuai (sedarkan apa yg sedang dilakukan, Mudahkan TL +ve, hadkan rangsangan tidak dikehendaki)
(d) Beri Peneguhan sesuai & Tentukan akibat yg bermakna (jangka pendek/panjang)
Bab 6: Kaunseling Pemusatan Insan
Pandangan Rogers: Manusia adalah positif dan bergerak kehadapan utk capai potensi diri yg cemerlang.
Konsep utama:
(1) Fenomenologi: ( individu bertindak ikut pandangannya sendiri )
(2) Konsep Mengetahui:
(a) Subjektif ; pengetahuan / maklumat utk rujukan diri sendiri.
(b) objektif; pengetahuan / maklumat yg diketahui dan telah disahkan oleh orang lain .
(c) interpersonal; pengetahuan luar dari sikap empati.
(3) Struktur personaliti:
(a) Organisme ; Pusat segala pengalaman.
(b) Kendiri ; (gabungan pengalaman dan persepsi ) konsep kendiri yg diingini.
(4) Proses perkembangan personaliti: Individu cenderung berkembang kepada kesempurnaan kendiri.
(5) Kecelaruan Psikologi: individu menjadi terbuka kepada pengalaman yg tidak defensive.
Konsep Kendiri Dlm Kaunseling Pemusatan Insan
(1) Konsep keseluruhan persepsi, tersusun dan konsisten mewakili ciri individu dan hubungannya dgn org lain.
(2) Kendiri idaman melibatkan persepsi dan makna
berkaitan dgn kendiri yg dihargai individu , org yg
signifikan dan masyarakat.
(3) Kendiri sebenar adalah kendiri yg tidak berpura2

Sikap Kaunselor dalam Kaunseling Pemusatan Insan
(1) Kongruen atau keikhlasan ; kaunselor tunjuk sifat sebenrnya (tidak berpura2)
(2) penerimaan tanpa syarat ; anggap manusia dgn positif, boleh berubah.
(3) empati; pemahaman tepat dan empatik pada keadaan klien disebabkan pengalamannya

Kemahiran Asas Kaunseling Pemusatan Insan
(1) Soalan terbuka/tertutup ; Galak klien beri maklumat
(2) Dorongan minima ; Dorongan spt angukkan yg menunjukkan kaunselor faham cerita klien
(3) Prafrasa ; Ceritakan semula cerita klien dgn perkataan sendiri utk tunjuk pemahaman.
(4) Rumusan ; Marangkumkan maklumat yang berkenaan sebelum merespon.
(5) Refleksi Perasaan ; Merasai perasan klien utk galakan ia meluahkan perasaan.
(6)Konfron/mencabar; Teknik supaya klien melihat diri yg sebenarnya bukan hanya pada perkara yg baik sja.
(7) Memfokus ; Kaunselor beri tumpuan, tak berangan.
(8) Refleksi makna ; Keupayaan kaunselor memahami keseluruhan cerita termasuk perkara yg tidak diceritakan klien.





Teori Behaviorisme


Behaviorisme
Disusun oleh: DR. phil. Hana Panggabean

Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.

Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.

Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.



PEMIKIRAN PENDAHULU

1. Para pemikir bidang filsafat

Pemikiran para filsuf masa Yunani kuno kelompok orientasi biologis yang berusaha menjelaskan aktivitas manusia dalam bentuk reaksi mekanistis dari proses-proses biologis, misalnya Hippocrates.
pandangan John Locke yang menekankan pada lingkungan sebagai penentu perilaku manusia, jiwa dianggap pasif.
pandangan empirisme dan asosiasionisme sangat mewarnai behaviorisme. Adaptasi manusia terhadap lingkungan dilakukan melalui proses belajar yang berusaha dijelaskan secara empirik dan menggunakan proses asosiasi.
2. Bidang reflexologi

Riset-riset di bidang reflexologi di Rusia, adalah pengaruh yang relatif dekat pada behaviorisme dibanding pandangan-pandangan di atas. Reflexologi bertujuan menggali dasar fisiologis dari proses-proses behavioral. Mereka melakukan ini bukan dlm konteks pengembangan ilmu psikologi, karena para ahli ini sebenarnya adalah ahli fisiologis. Jadi aspek psikologis sudah dengan sendirinya tercakup dalam riset fisiologis mereka.
Tokoh penting reflexologi Rusia : Ivan Petrovich Pavlov. Seorang yang berlatar pendidikan fisiologi hewan dari Universitas St. Petersburg (lulus 1875), juga memiliki latar belakang kedokteran. Pernah menempuh pendidikan di Jerman dan memperoleh gelar profesor di bidang farmakologi dan fisiologis. Riset-risetnya tentang proses fisiologis dalam sistem pencernaan mengantarkannya memperoleh Hadiah Nobel pada tahun 1904. Pavlov sendiri selalu menolak disebut sbg. psikolog dan lebih suka dikenal sebagai seorang ahli fisiologis karena menurutnya bidang psikologi adalah bidang yang terlalu abstrak dan spekulatif dibandingkan dengan fisiologis yang lebih empirik. Ia bahkan selalu merasa skeptik dgn psikologi
Dalam bidang psikologi, Pavlov dikenal karena penemuannya dalam proses kondisioning. Penemuan ini diperoleh melalui riset dengan anjingnya, secara tidak direncanakan. Bahkan di awalnya Pavlov agak ragu untuk meneruskannya karena arahnya dianggap terlalu ‘psikologis’ dan berarti abstrak. Namun ia memtuskan utk meneruskannya karena karakteristik percobaan ini lebih bersifat fisiologis.
Teori utama Pavlov:
a. respon-respon yang terjadi dalam proses kondisioning :

tahap 1: makanan ------------------------------------------------ air liur
UCS UCR (natural)
tahap 2: pasangkan makanan dengan stimulus lain (bel, piring)
tahap 3: bel --------------------------------------------------------- air liur
CS CR (learned)

b. perluasan dari respon-respon kondisioning yang dasar

Delayed CR
Extinguished/extinction and spontaneous recovery
Generalization/irradation-discrimination
Experimental neurosis
c. memperkenalkan konsep reinforcement.

3. Teori assosiasionisme modern

Tokoh utama : Edward Lee Thorndike (1874-1949).
Ia membaca buku James (Principles of Psychology) sebagai mahasiswa psikologi tahun pertama di Wesleylan University dan belajar pada James sendiri di Harvard dalam bidang animal learning. Eksperimen-eksperimen Thorndike dengan binatang sangat didukung James selama ia di Harvard.
Kemudian ia datang ke Columbia atas undangan James Mc. Keen Cattell dan melanjutkan eksperimennya. Setelah meraih gelar Ph.D, ia tertarik di bidang sosial dan pendidikan, lalu mengajar di Teachers’ College, Columbia University, hingga masa pensiunnya di 1949.
Thorndike mengembangkan teori asosiasionisme yang sangat sistematis, dan salah satu teori belajar yang paling sistematis. Ia membawa ide-ide asosiasi para filsuf ke dalam level yang empiris dengan melakukn eksperimen terhadap ide-ide filosofis tersebut. Thorndike juga mengakui pentingnya konsep reinforcement dan reward serta menuliskan teorinya tentang ini dalam ‘law of effect’ tahun 1898 (bandingkan dengan Pavlov yang baru menuliskan idenya tentang reinforcement pada 1902).
Pandangan Thorndike:

Definisi Psikologi :…the study of stimulus-response connections or bonds… Thorndike sangat mementingkan connections. Connections dapat terbentuk secara sambung menyambung dalam urutan yang panjang. Sebuah connections yang tadinya response bisa menjadi stimulus. Di sinilah tampak peran asosiasi yang membentuk connections.
Teori utama Thorndike :
a. Fenomena belajar :

Trial and error learning
Transfer of learning
b. Hukum-hukum belajar :

Law of Readiness : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu, misalnya kesiapan belajar membaca. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis
Law of Exercise : jumlah exercise (yang dapat berupa penggunaan atau praktek) dapat memperkuat ikatan S-R. Contoh : mengulang, menghafal, dan lain sebagainya. Belakangan teori ini dilengkapi dengan adanya unsur effect belajar sehingga hanya pengulangan semata tidak lagi berpengaruh.
Law of Effect : menguat atau melemahnya sebuah connection dapat dipengaruhi oleh konsekuensi dari connection tersebut. Konsekuensi positif akan menguatkan connection, sementara konsekuensi negatif akan melemahkannya. Belakangan teori ini disempurnakan dengan menambahkan bahwa konsekuensi negatif tidak selalu melemahkan connections. Pemikiran Thorndike tentang. Konsekuensi ini menjadi sumbangan penting bagi aliran behaviorisme karena ia memperkenalkan konsep reinforcement. Kelak konsep ini menjadi dasar teori para tokoh behaviorisme seperti Watson, Skinner, dan lain-lain.
4. Fungsionalisme

Menjadi dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama behaviorisme, yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis disertasinya di University of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan pengembangan bidang psikologi pada animal psychology dan child psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian, Watson menunjukkan kritik tajam pada fungsionalisme.



PRINSIP DASAR BEHAVIORISME

Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.